Tentang Bank Syariah

Dewasa ini bank syariah mulai berkembang. Bank bank konvensional mulai membuka cabang syariah. Namun tahukah kita apa itu bank syariah? Berikut Guru Madrasah dotcom sedikit membuatkan wacana bank syariah.

PENGERTIAN BANK SYARIAH

Silahkan Simak Juga Tentang Ekonomi Syariah

Bank syariah mengandung bebagai macam arti berdasarkan para hebat di bidangnya, berikut aneka macam macam pengertiannya:

Bank islam, selanjutnya disebut dengan bank syariah, yaitu bank yangg beroperasi tanpa mengandalkan bunga.

Bank syariah juga sanggup diartikan sebagai forum keuangan/perbankan yang operasional dan produknya dikembangkan berlandaskan al-quran dan hadis.

Antonio dan Perwata Atmadja membedakan dua pengertian, yaitu bank islam dan bank yang beroperasi dengan prinsif syariat islam.

  •  bank islam yaitu bank yg beroperasi dengan prinsif syariat islam dan tata cara operasinya mengacu pada ketentuan-ketentuan Al-quran dan hadis.
  •  bank yang beroperasi sesuai dengan prinsif syariat islam yaitu bank yang dalam beroperasi mengikuti ketentuan syariat islam, khususnya menyangkut tata cara bermuamalat islam.

Bank syariah merupakan salah satu bentuk dari perbankan nasional yang mendasarkan operasionalnya pada syariat (hukum) islam.

Menurut Schaik(2001), bank islam yaitu sebuah bentuk dari bank modern yang didasarkan dari aturan islam yang sah, memakai konsep membuatkan risiko sebagai metode utama, dan meniadakan keuangan berdasarkan kepastian serta laba yang ditentukan sebelumnya.

Sudarsono (2004) mengemukakan, bank syariah yaitu forum keuangan yang perjuangan pokoknya menunjukkan kredit dan jasa-jasa lain dalam kemudian lintas pembayaran serta peredaran uang yang beroperasi dengan prinsip-prinsip syariat.

Muhammad (2002) dan Donna (2006), bank syariah yaitu forum keuangan yang beroperasi tanpa mengandalkan bunga dan perjuangan pokoknya menunjukkan pembiayaan dan jasa-jasa lainnya dalam kemudian lintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya sesuai dengan prinsip islam.

Selanjutnya, dalam Undang-undang No. 21 Tahun 2008 wacana perbankan syariah pasal 1 disebutkan bahwa”Perbankan syariah yaitu segala sesuatu yang menyangkut bank syariah dan unit perjuangan syariah, meliputi kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya.
Bank syariah dikembangkan sejalan dengan prinsip-prinsip dasar ekonomi islam.
Tujuan ekonomi islam bagi bank syariah tdk hanya memfokuskan pada tujuan komersial saja, tetapi juga  kiprahnya dalam menunjukkan kesejahteraan secara luas bagi masyarakat. Hal ini terlihat dari fungsi sosial yg dijalankan.
Fungsi sosial yang paling nampak diantaranya diwujudkan melalui acara penghimpunan dan penyaluran zakat, infak, sedekah, hibah dan waqaf(ZISW).

Fondasi filosofis sistem perbankan dan keuangan islam dalam pandangan Iqbal(1997:3)

Menurutnya, sistem islam menunjukkan pemfokusan yang sama pada dimensi etis, moral, sosial dan spiritual dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Hal ini sangat berbeda dengan sistem keuangan konvensional yang memusat, terutama hanya pada aspek transaksi keuangan dan ekonomi.
Dalam konsepsi islam, acara komersial, jasa, dan perdagangan harus diubahsuaikan dengan prinsif islam di antaranya”bebas bunga”, sehingga bank syariah dikenal sebagai bank “bebas bunga.

Menurut Chapra(2008)
Sistem bebas bunga harus didukung oleh nilai-nilai islam yang fundamental, menyerupai membuatkan risiko, hak dan kewajiban individu, hak milik, kesucian kontrak, dan tanggung jawab pembangunan bangsa dan umat.

TUJUAN DAN FUNGSI BANK SYARIAH

 

Chapra(2000:2)

Chapra (2000:2), memeberikan kesimpulan beberapa tujuan dan fungsi penting sistem perbankan islam menurut:

  • Kemakmuran ekonomi yang meluas dengan tingkat kerja penuh dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang optimum.
  • Keadilan sosial-ekonomi dan distribusi pendapatan dan kekayaan yang merata.
  • Stabilitas nilai uang untuk memungkinkan alat tukar tersebut menadi unit perhitungan yang terpercaya,
  • standar pembaayaran yang adil dan nilai simpan yang stabil.
  • Mobilisasi dan investasi tabungan bagi pembangunan ekonomi, yang menjamin pihak yang berkepentingan mendapatkan pengembalian yang adil.
  • Pelayanan yang efektif atas jasa perbankan

Lewis & Algaoud (2007:123) 

Lewis & Algaoud (2007:123)menyimpulkan bahwa tujuan utama perbankan dan keuangan islam meliputi :

  • Penghapusan bunga dari semua transaksi keuangan dan pembaruan semua acara bank biar sesuai dengan prinsip islam.
  • Distribusi pendapatan dan kekayaan yang wajar.
  • Mencapai kemajuan ekonomi

Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial (AAOIFI) 

  • Manajer investasi, yaitu bank syariah sanggup mengelola investasi dana nasabah.
  • Investor bank syariah, yaitu bank syariah sanggup menginvestasikan dana yg dimiliki ataupun dana nasabah yang dipercayakan kepadanya.
  • Penyedia jasa keuangan dan kemudian lintas pembayaran, yaitu bank syariah sanggup melaksanakan kegiatan jasa layanan perbankan sebagaimana lazimnya.
  • Pelaksanaan kegiatan sosial sebagai ciri yang menempel pada entitas keuangan syariah, yang mempunyai kewajiban untuk mengeluarkan dan mengelola (menghimpun, mengadministrasikan, dan mendistribusikan) zakat serta dana sosial lainnya.

BANK SYARIAH INDONESIA

Bank syariah di tanah air mendapatkan pijakan kukuh sehabis adanya deregulasi sektor perbankan pada tahun 1983, yaitu diberikannya keleluasaan penentuan tingkat suku bunga, termasuk nol persen (atau pembatalan bunga sekaligus).
Di Indonesia penggerak perbankan syariah yaitu bank Muamalat Indonesia. Berdiri tahun 1991, bank ini diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta sumbangan ICMI dan beberapa pengusaha muslim.
Ketika Indonesia dilanda krisis moneter yang memporak – porandakan perekonomian asia tenggara tahun 1998. bank muamalat sebagai bank syariah pertama di Indonesia juga terkena dampak krisis dan mencatatkan kerugian. Dan pada RUPS tanggal 21 Juni 1999, Islamic Development Bank (IDB) secara resmi menjadi salah satu pemegang saham Bank Muamalat.
Lahirnya UU No.10 tahun 1998 wacana perubahan UU No. 7 tahun 1992 wacana perbankan, telah memungkinkan bank syariah beroperasi sebagai Bank Umum Syariah (BSU) atau dengan membuka Unit Usaha Syariah(USS). Lahirlah Bank Syariah Mandiri (konversi dari Bank Susila Bakti) serta USS Bank IFI.
Dukungan terhadap perbankan syariah semakin besar lengan berkuasa dengan disahkannya UU No. 21 tahun 2008 wacana perbankan syariah.
Pada Oktober 2009, telah ada 6 BUS dan 25 UUS dengan total aset sebesar Rp 59,68 triliun (2,4% dibandingkan dengan aset bank konvensional) dan berhasil menyerap 17 ribu pekerja.
Dukungan pemerintah yang cukup signifikan yaitu dengan implementasi kebijakan office channeling, sumbangan akseleratif pemerintah berupa pengelolaan rekening haji yang akan dipercayakan kepada bank syariah, serta hadirnya investor-investor gres akan mendorong pertumbuhan bisnis syariah.

POLA PIKIR DASAR  BANK SYARIAH

Berikut yaitu hal – hal yang menjadi pola pikir dasar dalam bank syariah.
Cukup banyak tuntutan islam yang mengatur kehidupan ekonomi umat antara lain :

  • Islam menempatkan fungsi uang semata-mata sebagai alat tukar dan bukan sebagai komoditas, sehingga tidak layak untuk diperdagangkan apalagi mengandung unsur ketidakpastian (gharar).
  • Riba dalam segala bentuk dilarang. Meskipun masih ada pendapat, khususnya di Indonesia, yang masih mencurigai bunga bank termasuk bunga atau bukan, telah menjadi kesepakatan ulama, hebat fiqihdan islamic banker menyatakan bahwa bunga bank yaitu riba dan hukumnya haram.
  • Tidak memperkenankan aneka macam bentuk kegiatan yang mengandung unsur spekulasi dan perjuadian, termasuk kegiatan ekonomi yg diyakini sanggup merugikan masyarakat.
  • Harta harus berputar(diniagakan) sehingga tidak boleh hanya berpusat pada segelintir orang. Oleh alasannya itu bagi mereka yg mempunyai harta yang tidak produktif akan dikenakan zakat yang lebih besar.
  • Bekerja/mencari nafkah yaitu ibadah dan wajib dilakukan, sehingga tidak seorangpun tanpa bekerja yang berarti siap menghadapi risiko atau sanggup memperoleh laba (bandingkan dengan bunga bank dari deposito yang bersifat tetap dan hampir bebas risiko). 
  • Dalam aneka macam bidang kehidupan, termasuk kegiatan ekonomi harus dilakukan secara transparan dan adil atas dasar suka sama suka tanpa paksaan dari pihak manapun.
  • Adanya kewajiban untuk melaksanakan pencatatan atas setiap transaksi, khususnya yang tidak bersifat tunai dan saksi yang sanggup dipercaya(simetri dgn profesi akuntansi dan notaris).
  • Zakat sebagai instrumen untuk pemenuhan kewajiban penyisihan harta yang merupakan hak orang lain yang memenuhi syarat untuk menerima. Demikian juga anjuran untuk mengeluarkan infak dan sedekah sebagai manifestasi dari pemerataan kekayaan dan memerangi kemiskinan.

PRINSIP DASAR BANK SYARIAH

Prinsip dasar sistem ekonomi islam menjadi dasar beroperasinya bank islam, yaitu tidak mengenal konsep bunga uang dan tidak mengenal pinjaman uang, selain kemitraan/kerjasama (mudharabah dan musyarakah) dengan prinsip bagi hasil.

Fungsi Bank Islam 

  • Penerima amanah untuk melaksanakan investasi atas dana-dana yang dipercayakan oleh pemegang rekening investasi/deposan atas dasar prinsip bagi hasil.
  • Pengelola investasi atas dana yang dimiliki oleh pemilik dana shahibul maal sesuai dengan instruksi investasi yg dikehendaki pemilik dana(bank bertindak sebagai manajer investasi).
  • Penyedia jasa kemudian lintas pembayaran dan jasa-jasa lainnya sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.
  • Pengelola fungsi sosial menyerupai pengelolaan zakat dan peserta serta penyaluran dana kebajikan(fungsi optional).

Bentuk Bentuk Yang Ada Dalam Bank Syariah

Bentuk Mudharabah.
Yaitu perjanjian antara dua pihak, yaitu pihak pertama sebagai pemilik dana(shahibul maal) dan pihak kedua sebagai pengelola dana (mudharib) utk mengelola suatu kegiatan ekonomi dengan menyepakati nisbah bagi hasil atas laba yang diperoleh, sedangkan kerugian yang timbul merupakan risiko pemilik dana sepanjang tidak terdapat bukti bahwa mudharib melaksanakan kecurangan atau tindakan yang tidak amanah

Berdasarkan kewenangan yang diberikan kepada mudharib, mudharabah dibedakan menjadi :

  • Mudharabah mutlaqah, yaitu mudharib diberi kewenangan sepenuhnya untuk memilih pilihan investasi yang dikehendaki.
  • Mudharabah muqayyaddah, yaitu instruksi investasi ditentukan oleh pemilik dana, sedangkan mudharib bertindak sebagai pelaksana/pengelola.

Bentuk Musyawarah
Adalah perjanjian antara pihak-pihak unuk meneyertakan modal dalam suatu kegiatan ekonomi dengan pembagian laba atau kerugian sesuai nisbah yg disepakati. Musyarakah sanggup bersifat tetap atau bersifat temporer dengan penurunan secara periodik atau sekaligus pada final masa proyek.

Bentuk Wadiah
Wadiah yaitu titipan, yaitu pihak pertama menitipkan dana atau benda kepada pihak kedua selaku peserta titipan dengan konsekuensi titipan tersebut sewaktu-waktu sanggup diambil kembali, dan penitip sanggup dikenakan biaya penitipan.

Bentuk Jual Beli
Murabahah, yaitu kesepakatan jual beli antara dua belah pihak yang didalamnya pembeli dan penjual menyepakati harga jual yang terdiri atas harga beli ditambah ongkos pembelian dan laba bagi penjual. Murabahah sanggup dilakukan secara tunai maupun dengan angsuran(kredit).

Bentuk Kebijakan
Yaitu penerimaan dan penyaluran dana kebajikan dalam zakat, infak, sedekah dan lainnya serta penyaluran alqardul hasan, yaitu penyaluran dan dalam bentuk pinjaman utk tujuan menolong golongan miskin dengan penggunaan produktif tanpa diminta imbalan kecuali pengembalian pokok utang.

Simak Juga Konsep Dasar Hukum Perikatan

JASA JASA BANK SAYRIAH

Ijarah,yaitu kegiatan penyewaan suatu barang dengan imbalan pendapatan sewa, apabila terdapat kesepakan pengalihan pemilikan pada final masa sewa disebut ijarah mumtahiya bi tamlik(sama dengan finance lease).

Wakalah, yaitu pihak pertama menunjukkan kuasa pada pihak kedua (sebagai wakil) untuk urusan tertentu dan pihak kedua mendapat imbalan berupa fee atau komisi.

Kafalah, pihak pertama bersedia menjadi penanggung atas kegiatan yang dilakukan oleh pihak kedua sepanjang sesuai dengan yg diperjanjikan dan pihak pertama mendapatkan imbalan berupa fee atau komisi (garansi).

Sharf, yaitu pertukaran/jual beli mata uang yang berbeda dengan penyerahan segera (spot) berdasarkan kesepakatan harga sesuai dengan harga pasar pada ketika pertukaran.

PRODUK BANK SAYRIAH

 

1. Al-Wadiah (Simpanan)

Al-Wadiah dikenal dengan nama titipan atau simpanan, merupakan titipan murni dari satu pihak ke pihak lain, baik perseorangan maupun tubuh aturan yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja apabila penitip menghendaki.

Berdasarkan kewenangan yang diberikan, wadi’ah dibedakan menjadi :

Wadi’ah ya dhamanah yang berarti peserta titipan berhak mempergunakan dana/barang titipan unutk didayagunakan, tanpa ada kewajiban untuk menunjukkan imbalan kepada penitip dengan tetap pada kesepakatan sanggup diambil pada ketika diperlukan.

Wadi’ah amanah, tidak menunjukkan kewenangan kepada peserta titipan untuk mendayagunakan barang/dana yang dititipkan.

Penerima simpanan disebut yad al-amanah, artinya tangan amanah. Ia tidak bertanggungjawab atas segala kehilangan dan kerusakan yang terjadi pada titipan selama hal itu bukan akhir dari kelalaian atau kecerobohan yg bersangkutan dalam memelihara titipan.
Jika hendak memakai uang titipan, peserta titipan harus meminta izin kepada pemilik uang, dengan catatan ia menjamin akan mengembalikan uang tersebut secara utuh. Dengan demikian prinsip yad al-amanah (tangan amanah) menjadi yad al-adh dhamanah(tangan penangggung).  Selanjutnya apabila terjadi kerugian, kerugian tersebut juga ditanggung bank.
Imbalan bagi pemilik dana selain jaminan keamanan uangnya, juga akan memperoleh akomodasi lain menyerupai insentif atau bonus utk giro wadi’ah.
Pemberian jasa berupa insentif atau bonus biasanya memakai istilah nisbah atau bagi hasil antara bank dan nasabah.
Dalam praktiknya nisbah antara bank(mudharib) dengan deposan(shahibul maal) yaitu utk giro wadi’ah sebesar 30%, nisbah 40% : 60% utk simpanan tabungan dan nisbah 45% : 55% untuk deposito.

Contoh rekening giro wadi’ah

Tn.Ridho mempunyai rekening giro Wadiah pada bank Muamalat dengan saldo rata-rata pada bulan mei 2008 yaitu Rp.1.000.000,- Bonus yang diberikan bank muamalat bandung kepada nasabah 30% dengan saldo rata-rata minimal Rp.500.000,-. Diasumsikan total dana giro wadiah di bank Muamalat Bandung yaitu Rp.500.000.000,-. Pendapatan bank Muamalat Bandung dari penggunaan giro wadiah yaitu Rp.20.000.000,-. Maka bonus yg akan didapat Tn.Ridho :

Contoh perhitungan laba tabungan Mudharabah

Tn Daerobi mempunyai tabungan di Bank Syariah Garut pada bulan juni 2008. saldo rata-rata tabungan Tn. Daerobi yaitu sebesar Rp 10.000.000,- perbandingan bagi hasil (nisbah) antara bank syariah Garut dengan Deposan yaitu 40% :60%. Saldo rata-rata tabungan perbulan diseluruh Bank syariah Garut yaitu sebesar Rp.10.000.000.000,- dan pendapatan bank syariah  Garut yang dihasilkan yaitu Rp.40.000.000,-. Keuntugan Tn Daerobi pada bulan tersebut yaitu :

2. Pembiayaan dengan Bagi Hasil

Al-Musyarokah
Al-Musyarakah, yaitu kesepakatan kerjasama antara dua pihak atau lebih utk melaksanakan perjuangan tertentu. Masing-masing pihak menunjukkan dana atau amal dengan kesepakatan bahwa laba atau risiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. Dalam perbankan praktiknya diaplikasikan dalam hal pembiayaan proyek, pola lainnya yaitu lemabaga keuangan modal ventura.

Al-Mudharabah
Al-Mudharabah, yaitu kesepakatan kerjasama antara dua pihak, yaitu pihak pertama menyerahkan seluruh modal dan pihak kedua menjadi pengelola. Keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan kontrak. Apabila rugi, ditanggung pemilik modal, selam keguian itu bukan akhir kelalaian pengelola.
 ada dua macam al-mudharabah :

  • Mudharabah mutlaqah, merupakan kerjasama antara pihak pertama dan pihak kedua yang cakupannya lebih luas. Maksudnya tidak dibatasi waktu spesifikasi perjuangan dan kawasan bisnis.
  • Mudharabah muqayyadah, merupakan kebalikannya, yaitu dibatasi waktu spesifikasi perjuangan dan kawasan bisnis. Contoh dalam perbankan yaitu produk pembiayaan atau pendanaan menyerupai modal kerja.

Al-muzara’ah
Al-muzara’ah, yaitu kerjasama pengolahan pertanian antara pemilik lahan dan penggarap. Dalam perbankan diaplikasikan untuk pembiayaan bidang perkebunan atas dasar bagi hasil panen.

Al-musaqah
Al-musaqah merupakan bab dari al-muzara’ah, yaitu penggarap hanya bertanggungjawab atas penyiraman dan pemeliharaan dengan memakai dana dan peralatan mereka. Imbalan diperoleh dari presentase hasil panen.

3. Bai Al-Murabahah

Bai Al-Murabahah, merupakan kegiatan jual-beli pada harga pokok dan suplemen laba yang disepakati. Dalam hal ini penjual harus terlebih dahulu memberitahukan harga pokok yang ia beli ditambah laba yang diinginkannya.

Bai As-salam
Artinya pembelian barang yang diserahkan kemudian hari, sedangkan pembayaran dilakukan dimuka. Prinsip yg harus dianut yaitu harus diketahui terlebih dahulu jenis, kualitas dan jumlah barang dan aturan awal pembayaran harus dalam bentuk uang.

Bai Al-Istishna
Merupakan bentuk khusus dari kesepakatan Bai as-salam.oleh alasannya itu ketentuan dalam bai al-istishna mengikuti ketentuan dan aturan bai as-salam.
Bai al-istishna yaitu kontrak penjualan antara pembeli dan produsen(pembuat barang). Kesepakatan harga sanggup dilakukan secara tawar-menawar dan sistem pembayaran sanggup dilakukan dimuka atau secara angsuran perbulan.

4. Al-Ijarah (Leasing)

Adalah kesepakatan pemindahan hak guna atas barang atau jasa, melalui pembayaran upah sewa, tanpa di ikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barang itu.
Dalam praktinya kegiatan ini dilakukan oleh perusahan leasing, baik untuk kegiatan operating lease maupun finance lease.

5. Al-Wakalah

Wakalah atau wakilah artinya penyerahan atau pendelegasian atau pemberian mandat dari satu pihak ke pihak lain. Mandat ini harus dilakukan sesuai dengan yang telah disepakatieh pemberi mandat.

6. Al-Kafalah

Merupakan jaminan yang diberikan penanggung kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yg ditanggung. Dapat pula diartikan sebagai pengalihan tanggungjawab dari satu pihak ke pihak lain. Dalam perbankan al-kafalah sanggup dilakukan dalam hal pembiayaan dengan jaminan seseorang.

7. Al-Hawalah

Meruapakan pengalihan hutang dari orang yg berutang kepada orang lain yg wajib menanggungnya. Dengan kata lain pemindahan beban utang dari satu pihak ke pihak lain. Dalam perbankan dikenal dengan kegiatan anjak piutang atau factoring.

8. Ar-Rahn

Merupakan kegiatan menahan salah satu harta milik peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya. Kegiatan ini menyerupai jaminan utang atau gadai.

Silahkan simak Juga Tentang Filosifi Ilmu Ekonomi Syariah

loading...
Baca Juga  Konsep Dasar Aturan Perikatan Dalam Perdagangan Islam