Rekoso: Cara Pandang atau Jalan Hidup?

Jaman cilik mbiyen saya rekoso mas, jebul wis tuwo yo iseh tetep rekoso

Kalau kau pernah lewat perempatan kentungan di Jalan Kalurang, Yogyakarta, sedikit di sebelah selatan pom bensin ada gerobak kecil yang menyajikan masakan padang di trotoar. Buka mulai pukul 9 pagi hingga 12 siang. Pedagangnya yaitu seorang manantan chief kapal pesiar yang menentukan keluar untuk buka perjuangan sendiri. Ia berumur 50-an. Kalau beli makanannya, tentu saja kau boleh mengklaim ‘beli masakan ala chief kapal pesiar’.

Beberapa hari lalu, saya mendatangi warungnya untuk beli masakan mantan chief itu. Pukul 9 lewat sedikit saya tiba. Sampai sana, pedagangnya sedang memasang tenda dan menata dingklik untuk para pembeli. “Kok telat pak?” tanyaku. “iya mas, kesiangan tadi, tubuh rasanya capek”, jawabnya. Saya membisu saja sejenak sambil melihat jalanan di sekitar. Tiba-tiba ia membuka obrolan.

Baca juga: Laku Prihatin



Loading...

“Rekoso mas nyepakke dodolan iki, mbiyen jaman cilik saya wis biasa urip rekoso, eh tuwone yo tetep rekoso mas” (rekoso mas menyiapkan jualan ini, dulu jaman kecil saya sudah biasa rekoso, eh kini tetap). Aku tak mengerti harus bilang apa kecuali merespon enteng, “justru nikmate urip iku ning rekosone sih pak” (justru nikmatnya hidup itu pada rekoso-nya sih pak). Tak tau apa yg dipikirkan bapak itu, yang terperinci ia membalas dengan tersenyum.

Aku melihat kenyataan ini berbanding terbalik dengan ungkapan; jika kita bekerja keras sewaktu muda, saat remaja nanti tinggal menikmati hasilnya. Terdengar menjanjikan memang, tapi ternyata tak semua orang mencicipi demikian, setidaknya oleh mantan chief itu.

Kalau kau pernah lewat perempatan kentungan di Jalan Kalurang Rekoso: Cara Pandang atau Jalan Hidup?Sekalipun kerja keras telah kita jalani semenjak usia muda, tak selalu angan-angan untuk bersenang-senang tercapai di hari tua. Jika sedikit mengambil sudut pandang religius menyerupai yang pernah ditulis Weber dalam ‘The Protestant Ethic’, kerja keras semata-mata dilakukan dengan tujuan yang jelas, yaitu dedikasi Ilahi! sederhananya, bekerja yaitu ibadah!

Dalam istilah jawa, kita mengenal ‘urip rekoso’. Artinya sebenarnya tidak sepadan  jika disamakan dengan kerja keras ala Weberian, alasannya rekoso lebih akrab kesannya dengan kerja ekstra keras dengan hasil jauh di bawah harapan, bahkan boleh dibilang susah payah namun minim hasil. Rekoso menyerupai yang diucapkan pedagang itu mungkin demikian. Ia bekerja susah payah, namun ya tetap ‘capek’ hingga sekarang.

Barangkali itu lebih menunjukan sebagai jalan hidup yang [terpaksa] harus dijalani. Seperti yang kita pahami, boleh saja kita melihat kehidupan ini berjalan semata-mata sebagai sebuah pertukaran. Siapa yang menanam akan memanen, siapa yang menebar kebaikan akan memperoleh hasil baiknya. Tentunya siapa bekerja keras akan menikmati hasilnya. Tapi, siapa rekoso [mungkin] akan tetap rekoso.

Loading...
loading...
close