Pengertian Musyawarah

Pengertian Musyawarah, Ciri, Macam, Tujuan, Manfaat dan Contoh : berasal dari kata Syawara yaitu berasal dari Bahasa Arab yang berarti berunding, urun rembuk atau menyampaikan dan mengajukan sesuatu.

berasal dari kata Syawara yaitu berasal dari Bahasa Arab yang berarti berunding Pengertian Musyawarah


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Gotong Royong


Pengertian Musyawarah

Berarti mempersamakan pendapat yang terbaik dengan madu, dan bermusyawarah ialah upaya meraih madu itu dimanapun ia ditemukan, atau dengan kata lain, pendapat siapapun yang dinilai benar tanpa mempertimbangkan siapa yang menyampaikannya. Musyawarah sanggup berarti menyampaikan atau mengajukan sesuatu.


Kata musyawarah intinya hanya dipakai untuk hal-hal yang baik, sejalan dengan makna dasarnya. Sedangkan berdasarkan istilah fiqh ialah meminta pendapat orang lain atau umat mengenai suatu urusan. Kata musyawarah juga umum diartikan dengan negosiasi atau tukar pikiran.


Perundingan itu jua disebut musyawarah, lantaran masing-masing orang yang berunding dimintai atau diharapkan mengeluarkan atau mengemukakan pendapatnya perihal suatu kasus yang di bicarakan dalam negosiasi itu.


Musyawarah merupakan salah satu hal yang amat penting bagi kehidupan insani, bukan saja dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melainkan dalam kehidupan berumah tangga dan lain-lainnya. Islam memandang penting peranan musyawarah bagi kehidupan umat manusia, antara lain sanggup dilihat dari perhatian al-Qur’an dan Hadis yang memerintahkan atau menganjurkan umat pemeluknya supaya bermusyawarah dalam memecah banyak sekali dilema yang mereka hadapi.


Secara bahasa musyawarah berasal dari bahasa Arab yaitu syûrâ yang berarti mengambil, melatih, menyodorkan diri, dan meminta pendapat atau nasihat; atau secara umum, asy-syûrâ artinya meminta sesuatu. Kata ( شور )  Syûrâ terambil dari kata ( شاورة- مشاورة- إستشاورة) menjadi ( شورى )  Syûrâ.


Kata Syûrâ bermakna mengambil dan mengeluarkan pendapat yang terbaik dengan menghadapkan satu pendapat dengan pendapat yang lain. Dari pengertian itu sanggup disimpulkan, syura artinya memusyawarahkan perbedaan-perbedaan pendapat atas sesuatu untuk melahirkan kebaikan dan kebenaran yang ada di dalamnya.


Menurut istilah sebagaimana dikemukaan oleh Ar-Raghib Al-Ashfahani:

والمشاورة: والمشورة استخراج الرأى بمراجعة البعض إلى البعض(الراغب : ۲۷۰)


Musyawarah ialah mengeluarkan pendapat dengan mengembalikan sebagiannya pada sebagian yang lain, yakni menimbang satu pendapat dengan pendapat yang lain untuk menerima satu pendapat yang disepakati.

Sedangkan dalam KBBI musyawarah berarti pembahasan bersama dengan maksud mencapai keputusan atas penyelesaian kasus (KBBI:768).


Dengan demikian pengertian musyawarah adalah suatu sistem pengambilan keputusan yang melibatkan banyak orang dengan mengakomodasi semua kepentingan sehingga tercipta satu keputusan yang disepakati bersama dan sanggup dijalankan oleh seluruh penerima yang mengikuti musyawarah


Musyawarah dalam Islam

Islam memandang musyawarah sebagai salah satu hal yang amat penting bagi kehidupan insani, bukan saja dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melainkan dalam kehidupan berumah tangga dan lain-lainnya. Ini terbukti dari perhatian al-Qur’an dan Hadis yang memerintahkan atau menganjurkan umat pemeluknya supaya bermusyawarah dalam memecah banyak sekali dilema yang mereka hadapi.


Musyawarah itu di pandang penting, antara lain lantaran musyawarah merupakan salah satu alat yang bisa mempersekutukan sekelompok orang atau umat di samping sebagai salah satu sarana untuk menghimpun atau mencari pendapat yang lebih dan baik.


Adapun bagaimana sistem permusyawaratan itu harus dilakukan, baik Al-Qur’an maupun Hadis tidak memperlihatkan klarifikasi secara tegas. Oleh lantaran itu soal sistem permusyawaratan diserahkan sepenuhnya kepada umat sesuai dengan cara yang mereka anggap baik.


Para ulama berbeda pendapat mengenai obyek yang menjadi kajian dari permusyawaratan itu sendiri, adakah permusyawaratan itu hanya dalam soal-soal keduniawian dan tidak perihal masalah-masalah keagamaan? Sebagian dari mereka beropini bahwa musyawarah yang dianjurkan atau diperintahkan dalam islam itu khusus dalam masalah-masalah keduaniawian dan tidak untuk soal-soal keagamaan.


Sementara sebagian yang lain berpendirian bahwa disamping masalah-masalah keduniawian, musyawarah juga sanggup dilakukan dalam soal-soal keagamaan sejauh yang tidak jelaskan oleh wahyu (Al-Qur’an dan Hadis)


Terlepas dari perbedaan pendapat di atas, yang terang antara persoalan-persoalan duniawi dan agamawi tak sanggup dipisahkan meskipun antara yang satu dengan yang lain memang sanggup di bedakan. Dan suatu hal yang telah di sepakati bersama oleh para ulama ialah bahwa musyawarah tidak di benarkan untuk membahas masalah-masalah yang ketentuannya secara tegas dan terang telah ditentukan oleh Al-Qur’an dan Sunnah.


Dalil Al-Qur’an Tentang Musyawarah

  • Surat Al-Baqarah ayat 233:

 فَإِنْ أَرَادَا فِصَالا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا (البقرة: ٢٣٣ )

 Artinya: “Apabila keduanya (suami istri) ingin menyapih anak mereka (sebelum dua tahun) atas dasar kerelaan dan permusyawarahan antara mereka. Maka tidak ada dosa atas keduanya”. (QS. Al-Baqarah: 233)


Ayat ini membicarakan bagaimana seharusnya korelasi suami istri dikala mengambil keputusan yang berkaitan dengan rumah tangga dan anak-anak, ibarat menceraikan anak dari menyusu ibunya. Didalam menceraikan anak dari menyusu ibunya kedua orang bau tanah harus mengadakan musyawarah, menceraikan itu dilarang dilakukan tanpa ada musyawarah, seandainya salah dari keduanya tidak menyetujui, maka orang bau tanah itu akan berdosa lantaran ini menyangkut dengan kemaslahan anak tersebut. Makara pada ayat di atas, Quran memberi petunjuk biar setiap dilema rumah tangga termasuk dilema rumah tangga lainnya dimusyawarahkan antara suami istri.


  • Surat Ali ‘Imran ayat 159 :

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (ال عمران: ١٥٩ )

Artinya: “Maka disebabkan rahmat Allahlah, engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap agresif dan berhati keras. Niscaya mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu. Kerena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan tertentu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (QS. Ali ‘Imran: 159)


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sifat Wajib Dan Mustahil Bagi Nabi Dan Rosul


Dalil Al Hadist Tentang Musyawarah

  • Hadist dari Hasan ra

عَنِ الْحَسَنِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: قَدْ عَلَمَ اللهُ أَنَّهُ مَا بِهِ إِلَيْهِمْ حَاجَةُ, وَلَكِنَّهُ أَرَادَ أَنْ يُسْتَنَ بِهِ مِنْ بَعْدِه. وَعَنْ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ    ( ما تشا ور قوم قط إلا هدوا لأرشد أمرهم ))

Hadtis yang diriwayatkan dari hasan semoga ridha Allah darinya: Allah sungguh mengetahui apa yang mereka butuhkan dan tetapi yang ia inginkan enam puluh orang. Dan dari Nabi saw: (suatu kaum memadai dalam bernusyawarah tetang sesuatu kecuali mereka ditunjuki jalan yang lurus untuk urusan mereka).


  • Hadits dari Imam Ahmad

  قَالَ رَسُوْلُ اللهَ صَلىّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلّمَ لِآ بِى بَكْرِ وَ عُمَرَ: لَوِاجْتَمَعْنَمَا فِى مَشُوْرَةِ مَااخْتَلَفْتُكُمَا (ر.أحمد)

Telah bersabda Rasulullah SAW. Kepada Abu Bakar dan Umar : “Apabila kalian berdua sepakat dalam musyawarah, maka saya tidak akan menyalahi kau berdua.”  (HR. Ahmad)


  • Hadist dari Ibnu Majjah

إِذَا اسْتَشَا أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيَسَرَّ عَلَيْهِ (ابن ماجه)

Apabila salah seorang kau meminta bermusyawarah dengan saudaranya, maka penuhilah. (HR. Ibnu Majah)


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pancasila Sebagai Dasar Negara


Nilai Musyawarah dalam Pancasila

Nilai-nilai Pancasila merupakan suatu pandangan hidup  bangsa Indonesia. Pancasila juga merupakan nilai-nilai yang sesuai dengan hati nurani bangsa Indonesia, lantaran bersumber pada kepribadian bangsa. Nilai-nilai Pancasila ini menjadi landasan dasar, serta motivasi atas segala perbuatan baik dalam kehidupan sehari-hari dan dalam kenegaraan.


Dalam kehidupan kenegaraan, perwujudan nilai Pancasila harus tampak dalam suatu peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia. Karena dengan sepertinya Pancasila dalam suatu peraturan sanggup menuntun seluruh masyarakat dalam bersikap sesuai dengan peraturan perundangan yang diubahsuaikan dengan Pancasila.


Salah satu nilai yang terkandung dalam pancasila yang terkandung dalam sila keempat adalah: ”Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.”  Rakyat dalam hal ini merupakan komunitas yang masing-masing individu mempunyai kedudukan yang sama, mempunyai kewajiban dan hak yang sama.


Inilah inti dari kehidupan demokrasi yang ada di Indonesia yang mempunyai ciri yang khas, yakni musyawarah untuk mufakat, yang dijalankan secara jujur dan tanggung jawab. Nilai-nilai yang terkandung pada sila keempat ini, antara laian: demokrasi, persamaan, mengutamakan kepentingan negara, tidak memaksakan kehendak, musyawarah untuk mufakat, semangat kekeluargaan, kesantunan dalam memberikan pendapat, jujur dan tanggung jawab.


Dengan demikian betapa pentingnya nilai musyawarah yang harus dimiliki oleh setiap masyarakat Indonesia sebagai perwujudan akan nilai pancasila yang kelak akan menjadi abjad yang membangun bagi bangsa Indonesia.


  • Pendidikan Sarana Mengembangkan Budaya Musyawarah

Dalam membuatkan budaya musyawarah, salah satu perjuangan yang perlu dilakukan ialah pengembangan di bidang pendidikan baik pendidikan formal dari jenjang sekolah dasar hingga akademi tinggi, dan juga pendidikan informal dari keluarga atau masyarakat. Karena fungsi alamiah pendidikan ialah memberdayakan insan tidak hanya menjadi pendukung sistem nilai yang berlaku tetapi lebih menjadi pengolahnya hingga sesuai dengan tuntutan zaman,  bahkan juga menjadi salah satu kekuatan sosial  yang ikut memberi bentuk, corak, dan arah bagi kehidupan masyarakat di masa depan.


Dalam rangka  mengembangkan  kepercayaan masyarakat pada pentingnya abjad musyawarah dan menjadikannya merupakan kepingan dari nilai budaya masyarakat Indonesia yang diyakini paling sesuai bagi masyarakat Indonesia untuk menuntaskan kasus bersama. Menurut Satjipto Rahardjo, pendidikan pasti menjadi andalan yang sangat penting pada waktu suatu bangsa merintis suatu pengalaman baru.


Pendidikan formal dari tingkat sekolah dasar hingga akademi tinggi harus mulai memperkenalkan, mengembangkan, mengkomunikasikan keluhuran nilai budaya musyawarah dan paham perdamaian dalam lingkungan pergaulan mereka melalui keteladanan dan contoh-contoh kongkrit yang terjadi di lingkungan pergaulan masyarakat.  Dalam sistem pendidikan Jepang misalnya, terdapat paham  fasifisme atau paham perdamaian yang terus menerus dianut hingga sekarang. Hal ini dimaksudkan biar masyarakat Jepang menjadi orang yang cinta damai.


Pendidikan harus bisa membentuk hati dan perasaan murid lantaran kasus nilai, jati diri, perilaku egaliter, perilaku pemaaf, dan mempercayai orang lain ialah terutama kasus ‘hati’, kasus afeksi, dan bukan kasus pengetahuan semata. Oleh lantaran itu, sekolah juga harus mengajarkan anak untuk menanamkan budaya bermusyawarah dalam menuntaskan masalah.  Berdasarkan hal itu, sekolah harus melaksanakan training kognitif, afektif, dan konatif secara simultan


Namun demikian, kurikulum pendidikan di Indonesia selama ini justru lebih menekankan aspek intelektualitas, dan mengabaikan segi afektivitas. Padahal realitas mengambarkan bahwa keberhasilan seorang di dalam masyarakat tidak hanya ditentukan pada faktor intelgensi, tapi juga faktor  emotional, dan faktor  spiritual quotient.


Berdasarkan hal itu yang mendesak kini ini ialah pembaharuan  paradigma pendidikan dari tingkat sekolah dasar  hingga akademi tinggi yang tidak lagi hanya memfokuskan atau memberi apresiasi hanya pada kemampuan intelektual. Untuk itu birokrasi pendidikan sentra dan daerah, harus mulai memperlihatkan otonomi yang luas untuk membuatkan kurikulum lokalnya, yang memungkinkan guru-guru dalam praktek sehari-hari memperlihatkan perhatian yang sama pada training kemampuan kognitif, kepekaan afektif, dan kemampuan konatif, serta memungkinkan  guru mempunyai kebebasan untuk melaksanakan kiprah mereka secara kreatif.


Berkaitan dengan penanaman nilai musyawarah, tenaga pendidik (guru dan dosen) sebagai salah satu faktor kunci keberhasilan proses pengembangan prosedur bermusyawarah. Pada lingkungan pendidikan sekolah dasar hingga sekolah lanjutan atas, di samping guru harus mengkomunikasikan nilai-nilai musyawarah atau perdamaian secara kreatif melalui suatu pelajaran ibarat Budi Pekerti, juga harus bisa menyebabkan nilai musyawarah atau perdamaian merupakan  kepingan dalam kehidupan pergaulan (konatif) di sekolah Tidak itu saja, masyarakatpun harus mendukung membuat situasi yang responsif untuk pengembangan nilai-nilai tersebut.


Keluarga Sarana Mengembangkan Budaya Musyawarah

Penghidupan kembali nilainilai musyawarah, perdamaian, dan tenggangrasa bukan hanya tanggungjawab dunia pendidikan formal, tapi menjadi tanggungjawab semua masyarakat, khususnya keluarga dan institusi-insitusi publik. Pendidikan dari lingkungan keluarga merupakan basis utama dan kunci tranformasi nilai-nilai moral pertamakali diperkenalkan oleh orang bau tanah pada seorang anak sebelum mengenal pendidikan formal.  Pesan leluhur dalam Serat Wulang Reh menyebutkan bahwa keluarga merupakan wadah:


  1. pendidikan pergaulan,
  2. pendidikan watak,
  3.  pendidikan norma sosial.
  4. pendidikan tatakrama,
  5. pendidikan perihal baik buruk, dan
  6. pendidikan agama.


Dari banyak sekali unsur pendidikan ini kiprah keluarga ialah mendidik anak yang sebaik-baiknya. Selanjutnya dalam pandangan hidup tradisional (termasuk yang semi modern) keluarga juga dianggap   poros dan sel terhakiki dalam hidup sosial. Mutu hidup sosial sangat tergantung pada korelasi intern keluarga, kalau keluarga  tidak pernah membekali  anak-anaknya dengan teladan yang baik dan  nilai-nilai moral dalam hidup sosial, maka bukan tidak mungkin bahwa anggota-anggota keluarga tertentu akan mengalami krisis moralitas.


Intuisi Publik Sarana Mengembangkan Budaya Musyawarah

Di samping keluarga, institusi publik ibarat perusahaan jaringan telivisi juga merupakan media yang paling strategis untuk mensosialisasikan pesan-pesan moral, penciptaan karakter, kepribadian  masyarakat. Dengan menekankan budaya musyawarah yang sesuai dengan prinsip-prinsip tanpa harus dengan kekerasan dalam menuntaskan suatu perselisihan yang dikala ini kerap terjadi.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : 25 Contoh Lembaga Pendidikan : Fungsi, Pengertian, Ciri


Tujuan dan Manfaat Musyawarah

Tujuan dalam Musyawarah

  1. Melatih untuk menyuarakan pendapat (ide)

Setiap orang pasti mempunyai inspirasi atau gagasan yang sanggup diungkapkan dalam memecahkan suatu permasalahan yang sedang dibahas. Dengan mengikuti musyawarah, seseorang bisa dilatih untuk mengutarakan pendapat yang nantinya akan dijadikan sebagai materi pertimbangan dalam mencari jalan keluar.


  1. Masalah sanggup segera terpecahkan

Dengan bermusyawarah, akan bisa didapatkan beberapa jalan alternatif dalam menuntaskan suatu permasalahan yang menyangkut kepentingan bersama. Pendapat yang berbeda dari orang lain mungkin akan lebih baik dari pendapat kita sendiri. Untuk itu sangat penting untuk mengadakan dengar pendapat dengan orang lain.


  1. Keputusan yang diambil mempunyai nilai keadilan

Musyawarah merupakan proses dengar pendapat yang nantinya keputusan yang diambil ialah merupakan akad bersama antar sesama anggota. Kesepakatan yang diambil tentunya tidak mengandung unsur paksaan di dalamnya. Sehingga semua anggota sanggup melaksanakan hasil keputusan tersebut dengan penuh tanggung jawab dan tanpa ada unsur pemaksaan.


  1. Hasil keputusan yang diambil sanggup menguntungkan semua pihak

Keputusan yang diambil dalam suatu musyawarah dilarang merugikan salah satu pihak atau anggota dalam musyawarah. Agar nantinya hasil yang diputuskan tersebut sanggup diterima dan dilaksanakan oleh seluruh anggota dengan penuh keikhlasan.


  1. Dapat menyatukan pendapat yang berbeda

Dalam sebuah musyawarah tentu akan ditemui beberapa pendapat yang berbeda dalam menuntaskan suatu kasus yang menyangkut kepentingan bersama. Disitulah letak keindahan dari musyawarah. Nantinya pendapat-pendapat tersebut akan di kumpulkan dan ditelaah secara bantu-membantu baik dan buruknya, sehingga diakhir musyawarah akan terpilih satu dari sekian pendapat yang berbeda tersebut, sebagai hasil keputusan bersama yang diambil untuk menuntaskan kasus yang sedang terjadi yang tentunya menyangkut kepentingan bersama.


  1. Adanya kebersamaan

Manfaat bermusyawarah, setiap orang bisa bertemu dengan beberapa abjad yang berbeda dari para anggota. Anggota didalamnya bisa bersilaturahmi dan mempererat korelasi tali persaudaraan antar sesama anggota.


  1. Dapat mengambil kesimpulan yang benar

Hasil keputusan final yang diambil dalam musyawarah ialah keputusan yang dianggap benar dan sah. Hasil keputusan itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh setiap anggotanya.


  1. Mencari kebenaran dan menjaga diri dari kekeliruan

Dengan bermusyawarah, kita bisa menemukan kebenaran atas pokomasalah yang menyangkut kepentingan bersama. Kita bisa mendengarkan banyak sekali klarifikasi dari anggota lainnya, yang nantinya akan menghindarkan kita dari berprasangka atau menduga-duga.


  1. Menghindari celaan

Dengan mengadakan musyawarah, tentunya kita akan terhindar dari banyak sekali macam anggapan dan celaan orang lain.


  1. Menciptakan stabilitas emosi

Dalam bermusyawarah tentu kita akan menemukan pendapat yang berbeda dari yang kita sampaikan. Dengan begitu hal tersebut bisa melatih kita untuk menahan emosi dengan menghargai setiap pendapat yang telah disampaikan para anggota. Sehingga akan tercipta stabilitas emosi yang baik antar sesama anggota.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Akhlak – Tujuan, Jenis, Ruang, Lingkup, Faktor, Karimah, Perbedaan


 Selain itu ada juga tujuan dari musyawarah yaitu :

  • Musyawarah dilaksanakan untuk membuka pintu kesulitan dan memperlihatkan kesempatan untuk melihat sebuah kasus dari banyak sekali sudut pandang, sehingga keputusan yang diambil dan dihasilkan sesuai dengan standar dan persepsi seluruh anggota. Keputusan yang diperoleh dengan musyawarah akan lebih berbobot lantaran di dalamnya terdapat pendapat, pemikiran dan ilmu dari para anggota.

  • Musyawarah dilakukan untuk memperoleh akad bersama sehingga keputusan yang karenanya diambil bisa diterima dan dijalankan oleh semua anggota dengan penuh rasa tanggung jawab.


Manfaat dalam Musyawarah

Musyawarah, mengandung banyak sekali manfaatnya. Diantaranya ialah sebagai berikut:

  1. Melalui musyawarah, sanggup diketahui kadar akal, pemahaman, kadar kecintaan, dan keikhlasan terhadap kemaslahatan umum,

  2. Sesungguhnya akal insan itu bertingkat-tingkat, dan jalan nalarnyapun berbeda-beda. Oleh lantaran itu, di antara mereka pasti mempunyai suatu kelebihan pandangan disbanding yang lain (dan sebaliknya), sekalipun di kalangan para pembesar,

  3. Sesungguhnya pendapat-pendapat dalam musyawarah diuji keakuratannya, . Setelah itu, dipilihlah pendapat yang sesuai (baik dan benar),

  4. Di dalam musyawarah, akan tampak bersatunya hati untuk mensukseskan suatu upaya dan akad hati. Dalam hal itu, memang, sangat diharapkan untuk suksesnya masalahnya kasus yang sedang dihadapi.
  5. Untuk menetapkan suatu keputusan dengan adil dan bijaksana,

  6. Untuk mencari kebenaran, persetujuan, dan akad bersama yang lebih baik,
  7. Untuk menghilangkan perilaku otoriter, diktator, dan perilaku sewenang- wenang,
  8. Untuk berguru membiasakan mengemukakan pendapat, ide, atau gagasan secara tepat.


Menurut  Ali bin Abi Thalib ada tujuh manfaat musyawarah, antara lain:

  1. Dapat mengambil kesimpulan yang benar.
  2. Mencari kebenaran.
  3. Menjaga diri dari kekeliruan.
  4. Menghindarkan celaan.
  5. Menciptakan stabilitas emosi
  6. Keterpaduan hati.
  7. Dan mengikuti atsar.


Dalam bukunya djoko sutopo pun beropini sama atas manfaat atau faedah dari musyawarah yaitu untuk bertukar fikiran serta menguji suatu pendapat yang layak dan patut untuk di ambil sebagai keputusan. Dalam musyawarah berupaya untuk menyatukan gagasan yang keluardari pemikiran banyak orang.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : 4 Pengertian Budaya Politik Menurut Para Ahli


Ciri, Prinsip & Hikmah dalam Musyawarah


Ciri Dalam Musyawarah

Adapun ciri-ciri Musyawarah yang antara lain yaitu:

  • Berdasarkan kepentingan bersama.
  • Hasil keputusan harus sanggup diterima dengan pikiran sehat sesuai hati nurani.
  • Usul atau pendapat yang disampaikan gampang dipahami dan tidak memberatkan anggota lain.
  •  Dalam proses musyawarah pertimbangan moral lebih diutamakan dan bersumber dai hati nurani yang luhur.


Hikmah Dalam Musyawarah,

  1. Memperkuat silaturahim dan memperkokoh persaudaraan.
  2. Saling berguru dari satu sama lain.
  3. Dapat bertukar pikiran antar satu sama lain.
  4.  Menyadarkan kekurangan dan kelebihan orang lain.
  5. Pekerjaan menjadi keputusan bersama dan menjadi ringan untuk dilakukan.
  6. Menghidupkan gairah warga untuk saling berlomba berbuat kebajikan.


Prinsip dalam Musyawarah

Dalam melaksanakan proses musyawarah tidak dilakukan dengan begitu saja, melainkan kita harus mempunyai pedoman yang harus ditaati dikala melaksanakan musyawarah. Prinsip-prinsip tersebut antara lain:

  1. musyawarah bersumber pada paham sila keempat pancasila
  2. setiap putusan yang diambil harus sanggup di pertanggung jawabkan dan dilarang bertentangan dengan pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
  3. setiap penerima musyawarah mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam mengeluarkan pendapat.
  4. setiap putusan, baik sebagai hasil mufakat maupun berdasarkan bunyi terbanyak harus diterima dan di laksanakan.
  5. apabila cara musyawarah untuk mufakat tidak sanggup di capai dan telah di upayakan berkali-kali maka sanggup di gunakan cara lain yaitu dengan pengambilan bunyi terbanyak(voting)


Prinsip dan Perilaku dalam Musyawarah

  1. Yang menjadi objek musyawarah ialah hal  – hal kemasyarakatan, termasuk soal – soal keluarga.
  2. Orang yang dimusyawarahkan ialah yang makruf (baik), tidak bersifat maksiat.
  3. Musyawarah termasuk hal tolong – menolong dan tukar pikiran dan memakai budi pikiran yang sehat.
  4. Musyawarah bertujuan untuk mencari solusi yang benar dan tepat.
  5. Orang yang musyawarah harus tenggag rasa, saling menghormati.
  6. Bersikap terbuka dan bersedia mendengar pemikiran orang lain dan dilarang merasa paling pandai sendiri.
  7. Menggunakan bahasa yang santun dan sopan.
  8. Keputusan musyawarah menjadi keputusan bersama dan wajib dilaksanakan.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Dan Tujuan Reformasi Agraria Secara Lengkap


Contoh Musyawarah

Musyawarah ialah acara membicarakan sesuatu kasus secara bersama-sama. Musyawarah bertujuan untuk mengambil keputusan. Musyawarah dilaksanakan untuk menyatukan pendapat dan menuntaskan masalah. Musyarakah dilakukan untuk mencapai kesepatakan. Mussyawarah sanggup dilakukan di rumah, di sekolah dan di masyarakat. Di dalam musyawarah, tawaran atau pendapat ditampung. Dengan melaksanakan musyawarah kita sanggup menghindari permusuhan dan pertengkaran. Adapun teladan musyawarah diantaranya yaitu:


Musyawarah di Rumah

Pernahkah keluarga kalian di rumah melaksanakan musyawarah? Dapatkah kalian menyebutkan teladan acara musyawarah yang dilakukan di rumah? Salah satu teladan musyawarah yang dilakukan di rumah ialah dikala membicarakan acara liburan. Untuk memilih acara yang akan dilakukan dikala liburan, perlu dilaksanakan acara musyawarah.


Beberapa kemungkinan muncul usul dari anggota keluarga contohnya ada yang mengusulkan pergi ke rumah saudara, ada yang mengusulkan pergi wisata ke pegunungan atau ada yang mengusulkan pergi wisata ke pantai. Mungkin ada juga yang mengusulkan tinggal di rumah saja. Sebagai penerima musyawarah, seluruh anggota keluarga harus menghargai dan menghormati semua usulan. Keputusan yang dihasilkan dalam musyawarah harus mempertimbangkan usulan-usulan semua anggota musyawarah.


Setelah semua penerima musyawarah memberikan usul, saatnya diputuskan. Apapun keputusannya, contohnya diputuskan untuk pergi ke rumah saudara, semua anggota keluarga harus mendapatkan keputusan tersebut dan melaksanakan secara bersama-sama.


Musyawarah di Sekolah

Simak dongeng berikut ini. Cerita berikut ini ialah teladan musyawarah di sekolah. Pak Supri memberi kiprah kepada anak anak. Tugas yang diberikan yaitu membuat kliping perihal sumber-sumber energi di sekitar kita. Tugas diberikan secara kelompok. Setiap kelompok terdiri lima anak. Sebelum mengerjakan tugas, setiap kelompok bermusyawarah. Nisa sebagai ketua kelompok.


Nisa dan kelompoknya bermusyawarah. Dalam musyawarah diadakan pembagian tugas. Alifa menyiapkan koran dan majalah bekas. Tika membawa gunting dan lem. Anwar membawa spidol. Sedang Dewi bertugas membawa kertas. Semua menaati hasil musyawarah. Pada hari yang ditentukan, kiprah dikerjakan di rumah Alifa. Mereka asyik mengerjakan kiprah bersama sama. Kliping disusun dengan baik. Hasil pekerjaan mereka sangat memuaskan. Pekerjaan sanggup dikerjakan dengan gampang apabila di kerjakan secara bantu-membantu dan di dahului dengan musyawarah.


Musyawarah di Masyarakat

Kalian mungkin pernah mendengar kalau ayah kalian mendapatkan seruan dari Pak RT atau Pak RW untuk menghadiri rapat di rumah Pak RT atau rumah Pak RW. Rapat atau musyawarah banyak dilakukan oleh masyarakat untuk menuntaskan kasus yang mereka hadapi. Hal-hal yang biasa mereka musyawarahkan antara lain contohnya membahas perihal kerja bakti membersihkan selokan, rencana membangun masjid, atau membangun pos ronda.

Loading...
loading...
close