Pengertian Ijtihad Dalam Islam

Pengertian Ijtihad Dalam Islam-Guru Madrasah. Setelah sebelumnya Guru Madrasah membahas tentang Al qur’an sebagai sumber aturan Islam yang utama dan Hadist sebagai sumber aturan yang kedua, kali ini Guru Madrasah ingin sedikit mengulas wacana pengertian ijtihad.

Ijtihad sendiri dalam islam menjadi landasan aturan yang ketiga, sesudah tidak ditemukannya dalam hadist ataupun dalam alqur’an secara rinci atau lebih tepatnya masih terlalu bersifat umum di jelaskan dalam hadist atapun dalam al qur’an.

Pengertian Ijtihad Dalam Islam

Ijtihad secara sederhananya ialah upaya untuk memahami Al Qur’an dan hadist.

Pengertian Secara Bahasa

Secara bahasa ijtihad berasal dari kata bahasa arab yaitu ijtahada-yajtahidu-ijtihadan yang mempunyai arti mengerahkan segala kemampuan, bersungguh – sungguh mencurahkan tenaga atau bekerja secara optimal.

Pengertian Secara Istilah

Secara istilah ijtihad berarti mencurahkan segenap tenaga dan pikiran secara sungguh – sungguh dalam menetapkan suatu aturan dalam islam.
Dalam hal ini orang yang melaksanakan ijtihad disebut sebagai Mujtahid.

Syarat Syarat Berijtihad

Dalam berijtihad tidak sembarangan orang bisa melakukannya. Tidak pula pribadi di ambil berijtihad dalam menetapkan aturan tanpa melihat dulu dalam Al Qur’an atapun hadist. Ingat aturan utama ialah Al qur’an kemudian hadist, jikalau suatu aturan sudah ada dalam Al qur’an dan hadist maka tidak ada ijtihad dalam aturan tersebut.
Karena tidak sembarang untuk menetapkan suatu aturan menurut ijtihad maka untuk melaksanakan ijtihad itu harus mempunyai syarat – syarat sebagai berikut :
1. Memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam
2. Memiliki pemahaman yang mendalam wacana bahasa arab, ilmu tafsir, undangan fikih, dan tarikh atau sejarah.
3. Memahami betul cara merumuskan hukum
4. Memiliku ahlak mulia.

Kedudukan Ijtihad

Ketika ijtihad itu sudah ada, maka ijtihad ini menyerupai di sebutkan sebelumnya di atas berpungsi sebagai landasan aturan yang ketiga sesudah Al Qur’an dan Hadist.
Hal ini sebagai mana sabda Nabi Muhammad SAW berikut ini :
Terjemahannya :
“Dari Mu’az, bahwa nabi Muhammad SAW, dikala mengutus ke Yaman ia bersabda : “Bagaimana engkau menetapkan suatu kasus yang di bawa orang kepadamu?”
Muaz berkata : ” Saya akan menetapkan berdsarkan kitabulloh ( al qur’an ).”
Lalau nabi berkata : ” Dan jikalau didalam kitabulloh engkau tidak menemukan kasus perkara tersebut?”
Muaz menjawab :” Jika begitu saya akan menetapkan menurut sunnah Rosululloh saw.”
Kemudian nabi bertanya lagi :” Dan jikalau engkau tidak menemukan kasus tersebut dalam sunnah?”
Muaz menjawab :” Saya akan mempergunakan pertimbangan nalar pikiran sendiri ( ijtihada bi ra’yi) tanpa bimbang sedikitpun.”
Kemudian nabi bersabda :” Maha Suci Alloh swt yang telah memebrikan bimbingan kepada utusan RosulNya dengan suatu perilaku yang disetujui RosulNya.” ( HR Dharami).
Itulah kedudukan dan urutan penggunaan ijtihad dalam aturan islam.

Pahala Orang yang Ber Ijtihad

Rosululloh selalin menyampaikan susunan penggunaan ijtihad dalam aturan maka Rosulullohpun menyampaikan orang yang melaksanakan ijtihad sesuai kemampuan dan ilmunya jikalau ijtihadnya itu benar maka mendapat dua pahala dan jikalau ijtihadnya salah maka mendapat satu pahala.
Hal tersebut sebagai mana sabda Nabi sebagai berikut ini :
Terjemahannya :
Dari Amr bi As, tolong-menolong Rosululloh SAW bersabda, apabila seorang hakim ber ijtihad dalam menetapkan suatu persoalan, ternyata ijtihadnya benar, maka ia mendapat dua pahala, dan apabila beliau ber ijtihad kemudian ijtihadnya salah, maka ia mendapat satu pahala ( HR Bukhari dan Muslim).

Bentuk Bentuk Ijtihad

Untuk lebih memahami pengertian ijtihad, kita harus mengetahui bentuk – bentuk ijtihad dalam islam. Ijtihad dalam islam mempunyai beberapa macam aplikasi, yaitu sebagai berikut :

a. Ijma

Ijtihad dengan bentuk ijma ialah kesepakatan para Ulama jago ijtihad atau para ulama mujtahid dalam menetapkan suatu kasus hukum.
Contoh ijma para sahabat ialah mengumpulkan lembaran – embaran ayat Al qur’an sehingga menjadi sebuah kitab suci Al qur’an yang bisa kita miliki pada zaman sekarang.

b. Qiyas

Qiyas adalam menyamakan kasus gres yang tidak ada dalam Al Qur’an dan Hadist dengan suatu aturan yang sudah ada dan terperinci baik dalam hadist atapun dalam Al qur’an alasannya ialah kesmaan sifat atau abjad permasalahnnya.
 
Contoh Qiyar ialah haramnya minuman keras yang memabukan, narkoba. Hal tersebut sama dengan aturan khamr dalam Al qur’an.
Alloh berfirman :
Terjemahannya :
Wahai orang – orang yang beriman ! tolong-menolong minuman kerah, berjudi,  ( berkurban untuk ) berhala ialah perbuatan keji dan termasuk perbuatan syetan maka jauhilah (perbuatan – perbuatan) itu biar kau beruntung. ( Q.S Al Maidah ayat 90).

c. Maslahah Mursalah

Maslahah mursalah ialah suatu ijtihad yang menetapkan aturan menurut menitikberatkan pada kemanfaatan suatu perbuatan dan tujuan hakiki universal terhadaf syariat islam.
Misalkan : Kewajiban menggati rugi barang yang rusak dianatara pembeli dan penjual yang sebelumnya di luar perjanjian.
Demikian wacana ijtihad dan pegertiann ijtihad dala islam semoga bermanfaat.
Teruslah menuntut ilmu sebelum masuk liang kubur. Semoga berkah dan mendapat rahmatNya. aamiin.
3 hal yang terus mengalis hingga meniggal dunia. 1 anak soleh yang mendoakan orang tuanya, 2 ilmu yang bermanfaat, 3 sodakoh jariah.
Praktis – mudahan ini menjadi ilmu yang bermanfaat yang tidak akan putus pahalanya meski sudah tiada. aamiin.

loading...
Baca Juga  Contoh Khutbah Idul Fitri 2019 M / 1440H Lengkap