Kedudukan Hadist Sebagai Sumber Aturan Islam Kedua

Dalam islam sumber aturan ada tiga, yaitu Al Qur’an, Hadist dan Ijma. Nah kali ini Guru Madrasah ingin membahas wacana kedudukan hadist sebagai sumber aturan islam yang kedua.

Silahkan simak juga Al Qur’an sebagai sumber aturan Islam

Maksud dari hadist sebagai sumber aturan yang kedua yakni kalau suatu masalah tidak begitu terang dalam Al Qur’an atau belum ada dalam Al qur’an, maka yang harus dijadikan sandaran berikutnya yakni hadist.
Hal ini sebagaimana firman Alloh SWT berikut ini :

Artinya:
“… dan apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah ia. Dan apa-apa yang dilarangnya, maka tinggalkanlah.” (Q.S. al-asyr ayat 7)

Dalam ayat lain Alloh menjelaskan sebagai berikut:

Artinya :
Barang siapa mentaati Rosul (Muhammad), maka ia telah mentaati Alloh SWT, dan barang siapa berpaling darinya maka ( ketahuilah ) Kami tidak mengutus ( Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka ( Q.S An Nisa ayat 80).

Itulah pentingnya dan kedudukan Hadis sebagai sumber aturan yang harus di ikuti sesudah Al Qur’an.

Oleh sebab hdist ini sumber aturan kedua sesudah Al qur’an, maka ada beberapa pungsi yang dimiliki oleh hadist terhadap aturan utama yaitu Al Qur’an.

Fungsi – Fungsi Hadist Terhadap Al qur’an

Silahkan smak juga wacana Bagian – Bagian Hadist

Fungsi – fungsi hadist terhadap alqur’an mencakup :

1. Menjelaskan perintah – perintah Alloh dalam Al Qur’an yang belum terperinci.

Dalam Al Qur’an ada sebagain yang kurang terang dilakukan secara teknis, Maka dalam hal ini Hadist lah yang merincinya hingga ke serpihan teknis pengerjaannya.
Sebagai pola perintah Sholat. Dalam Al Qur’an tidak dirinci tata cara mengerjakannya, namun tata cara pengerjaannya ada dalam hadist.

Baca Juga  Lengkap - Teladan Soal Ukk Fiqih Kelas 1 Sd/Mi 2018/2019

2. Meperkuat pernyataan yang ada dalam Al qur’an

Sebagai pola yakni perintah berpuasa. Barang siapa kalian melihat bulan maka berpuasalah.
Hal tersebut di tegaskan lagi dalam hadist sebagai berikut ” berpuasalah sebab melihat bulan dan berbukalah sebab melihatnya.”

3. Menerangkan Maksud ayat Al Qur’an

Dalam hal ini hadist berpungsi menjelaskan maksud sebuah ayat A quran supaya dapat dimengerti oleh yang mendengarkannya.

Sebagai pola dalam Q.S. at-Taubah/9:34 dikatakan, “Orang-orang yang menyimpan emas dan perak, lalu tidak membelanjakannya di jalan Allah Swt., gembirakanlah mereka dengan azab yang pedih!”
Ayat ini dijelaskan oleh hadis yang berbunyi, “Allah Swt. tidak mewajibkan zakat kecuali supaya menjadi baik harta-hartamu yang sudah dizakati.” (H.R.Baihaqi)

Pada ayat tersebuut dijelaskan tujuan dan maksud mebelanjakan harta di jalan Alloh, yaitu supaya hartanya baik dan caranya adallah dengan mengeluarkann zakat.

4. Menetapkan Hukum yang tidak ada dalam Al Qur’an

Karena haidis ini sebagai sumber aturan kedua maka salah satu pungsinya yakni sebagai komplemen aturan yang tidak tertulis dalam Al Qur’an.
Untuk itulah antara hadist dan Al Qur’an tidak dapat dipisahkan.

Sebagai pola :
bagaimana hukumnya seorang pria yang menikahi saudara wanita istrinya. Maka hal tersebut dijelaskan dalam sebuah hadis Rasulullah saw :

Artinya :
“Dari Abi Hurairah ra. Rasulullah saw. bersabda: “Dilarang seseorang mengumpulkan (mengawini secara bersama) seorang wanita dengan saudara dari ayahnya serta seorang wanita dengan saudara wanita dari ibunya.” (H.R. Bukhari).

Demikian yang dapat Guru Madrasah sampaikan tentang Kedudukan Hadist Sebagai Sumber Hukum Islam Kedua, agar bermanfaat.

loading...